Liburan Efektif dan Efisien Dengan Travel Digital

              

This image has an empty alt attribute; its file name is image.jpeg

   Pariwisata sampai saat ini masih masuk ke dalam lima sektor prioritas pembangunan Indonesia tahun 2019, Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah menggencarkan pembangunan infrastruktur menuju destinasi prioritas. Pemerintah perlu menambah destinasi prioritas di beberapa daerah, sehingga iklim investasi juga dirasakan oleh berbagai daerah. Keterbatasan aksesibilitas menuju destinasi seringkali menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di daerah.

                 Episode mimpi buruk pariwisata di Indonesia terjadi ketika Bom Bali 12 Oktober 2002. Pady’s Café dan Sari Club di Legian luluh lantah dibom oleh tiga pelaku teror Imam Samudra, Amrozy, dan Ali Gufron. Korban tewas 202 orang, 300 luka-luka dan 88 orang korban yang meninggal adalah warga negara Australia. Beberapa pengusaha pariwisata jatuh bangkrut akibat travel warning yang dikeluarkan oleh beberapa negara. Kunjungan wisatawan asing dan domestik menurun drastis. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal terjadi di industri pariwisata dan dunia usaha lain yang menopang pariwisata.

                 Mimpi buruk pariwisata Indonesia dilengkapi dengan erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali sejak Oktober hingga Desember 2017. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan erupsi tersebut menimbulkan kerugian bagi sektor pariwisata Indonesia. Kerugian ditaksir mencapai 250 milyar rupiah per hari atau jika ditotal mencapai 9 triliun rupiah. Padahal periode tersebut adalah peak season bagi kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-4.jpeg

                        Tren pariwisata selalu berubah setiap waktu. Berbagai faktor pun mempengaruhi, salah satunya adalah generasi yang selalu dibicarkan, Milenial. Milenial lagi, milenial lagi. Generasi ini seperti tidak henti-hentinya menjadi topik pembicaraan di mana pun. Namun, ternyata pengaruhnya cukup besar terhadap sebuah perkembangan pariwisata. Milenial merupakan satu-satunya generasi yang disebut ‘digitally native’, atau sangat familiar dengan gawai dan teknologi. Saat mereka plesiran, umunya jadi hal wajib untuk membagikan pengalaman di media sosial. Meskipun (pada

kenyataanya) generasi di atas milenial pun juga ikut-ikutan. Foto dan berbagi menjadi hal wajib saat berwisata. Namun, platform atau media yang digunakan umumnya berbeda. Namun, karena kedekatannya dengan teknologi, milenial seakan-akan mampu ‘menyulap’ waktu singkat tersebut. Mereka mampu membuat perjalanan wisata yang efisien dan efektif melalui kedekatan teknologi. Mulai dari membeli transportasi, mengatur jadwal perjalanan sampai akomodasi. Seiring berjalannya waktu, hal ini diselaraskan oleh para pelaku industri wisata yang berbasis digital. Traveler bisa lihat berbagai perkembangan Online Travel Agent, atau badan pariwisata yang mempromosikan tempatnya melalui media sosial. Pilihan wisata melalui teknologi pun juga bisa memudahkan dari berbagai sisi. Dari mulai melihat harga termurah, akses, sampai memesan transportasi, akomodasi dan atraksi.

            Berbicara pariwisata tentu tak lepas dari partisipasi terkhusus dalam pengembangan pariwisata di Bali. Partisipasi menjadi titik mula dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat. Dengan partisipasi dari semua pihak khususnya masyarakat, iklim wisata akan terbangun. Ketika semua orang turut mendukung, maka para wisatawan akan merasa nyaman berdiam di sebuah objek wisata.

          

This image has an empty alt attribute; its file name is image-1.jpeg

  Selain partisipasi, prinsip yang harus dijaga dalam pengembangan wisata adalah menjaga kebudayaan. Tiga pilar pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam hal ini. Wisata tidak boleh hanya mengedepankan tujuan ekonomi tapi juga keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan. Inti wisata berbasis masyarakat bukan soal bagus atau tidaknya destinasi. Perubahan pola pikir masyarakat adalah hal yang lebih utama. Misalnya dalam sebuah desa wisata yang sedang digalakkan di seluruh wilayah Bali, satu penduduk dengan penduduk lain harus memiliki keramahan yang sama. Ketika disambut dengan keramahan semua penduduk desa, secara otomatis wisatawan akan merasa senang dan akan kembali datang ke desa tersebut. Karenanya partisipasi masyarakat dan keramahan mereka inilah yang akan menjadi faktor keberlanjutan wisata berbasis masyarakat.

                        Ketika partisipasi dan keramahan sudah terbangun, proses pemasaran menjadi perhatian selanjutnya. Desa-desa wisata di Indonesia khususnya di Bali menemui kesuksesan karena bantuan teknologi dan keberadaan generasi milenial. Generasi ini umumnya memiliki karakter sebagai pengguna media dan teknologi digital. Penggerak wisata berbasis masyarakat harus mengenali karakter dan cara generasi milenial dalam berkomunikasi. Menguasai cara generasi milenial berkomunikasi berarti menguasai proses pemasaran wisata.

                        Hasil studi Singapore Tourism Board menyatakan bahwa wisatawan milenial lebih suka mencari pengalaman baru, unik, otentik dan personal. Mereka sangat percaya pada ulasan-ulasan wisata terutama pada media sosial. Pada poin inilah wisata berbasis masyarakat bertemu dengan tren pasar. Desain wisata yang mengedepankan keintiman interaksi masyarakat desa dengan para wisatawan serta keunikan desa menjadi daya tarik bagi wisatawan milenial. Masih menurut Singapore Tourism Board, wisatawan milenial Indonesia mudah terpengaruh oleh pengalaman orang lain. Media social-lah yang menjadi media saling mempengaruhi tersebut. Selain media sosial, forum-forum di internet dan situs review wisata menjadi rujukan bagi mereka untuk berkunjung ke sebuah tempat wisata.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.jpeg

                        Generasi milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial. Selain jumlah yang besar, karakter mereka secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Karenanya, pengelola wisata dituntut untuk mengikuti keinginan dan harapan mereka. Jika tidak, tentu mereka akan mengabaikan wisata kita. Secara berurutan, generasi milenial paling banyak menggunakan media sosial youtube, facebook dan instagram. Pegiat wisata berbasis masyarakat harus mempelajari karakter dari ketiga media sosial tersebut. Secara teknis, perlu riset media sosial untuk mendapatkan hati para generasi milenial. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari kata kunci yang berhubungan dengan wisata yang sedang kita kembangkan. Misalnya saat ada penyelenggaraan event pariwisata seperti Buleleng Festival tentu penggunaan hastag atau tanda pagar dalam meng-upload sesuatu. Setelah itu perlu mencari akun atau orang-orang yang tertarik dengan karakter wisata yang sedang dikembangkan. Terakhir, mengunggah foto atau video terbaik dengan menyertakan kata kunci dan menandai (tag) orang-orang sehuingga saat orang lain membuka aplikasi tentu akan menjadi prioritas tampilan dalam halaman awal.

                        Dari hal tersebut juga memperlihatkan bahwa kecemasan juga sudah berubah, dari mencemaskan pengorbanan untuk mengunjungi destinasi wisata menjadi mencemaskan kalau medsosnya tidak dikasih “hati” atau jempol oleh follower atau fans-nya. Sungguh perilaku yang unik kan, tapi lagi-lagi itulah kenyataannya dari fenomena tersebut. Melihat fenomena tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan kelompok lainnya sebenarnya sudah menangkap hal tersebut. Dari rangkaian kegiatan promosi pariwisata yang dibalut dengan event-event dari awal Januari sampai dengan Desember tiap tahunnya tentu menjadi agenda yang padat sebagai percepatan peningkatan kunjungan pariwisata baik wisatawan manca negara dan domestik. Pengelolaan media sosial menjadi hal yang perlu ditingkatkan, dengan mengajak generasi milenial untuk berpartisipasi dalam mempromosikan apa yang mereka dapat atau apa yang mereka alami selama ada di wilayah Buleleng atau menyaksikan event-event wisata. Sederhananya harus ada aturan main yang mudah dan ditetapkan untuk digunakan dalam tiap unggahan generasi milenial dengan kata lain memaksimalkan penggunaaan tanda pagar tadi. Sosialisasi penggunaan tanda pagar dapat disampaikan melalui akun sosial media pemerintah daerah yang diteruskan oleh akun unit kerja sampai ke pemerintah kecamatan. Sehingga wisatawan yang lalu lalang di wilayah Buleleng akan terus melihat seperti di baliho-baliho jalan utama. Sedikit banyak sebagai ajang promosi di dunia maya, dunia maya milik generasi milenial dan generasi milenial sebagai alat promosi, saat promosi berjalan kunjungan ke Buleleng meningkat karena rasa ingin tahunya akibat “serangan” di social media yang tinggi, sederhananya seperti itu.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-3.jpeg

             Usaha pariwisata/destinasi zaman now harus mengedepankan prinsip digital friendly, yaitu memfasilitasi pengunjungnya dalam melakukan look, book, buy dan act dengan media digital. Berarti pengelola harus benar-benar memiliki media digital seperti website, aplikasi mobile, dan mendukung sistem transaksi digital. Key success factor usaha pariwisata/destinasi zaman now adalah dengan menyediakan spot-spot dekomentasi yang Instagramable, yang dapat diabadikan oleh pengunjung baik dari depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah. Bahwa orang-orang sekarang ini sangat haus akan pengakuan, oleh karena itu pengelola harus memfasilitasi mereka dengan spot-spot foto yang memukau dan kekinian, Wisatawan zaman now memiliki gaya hidup digital (digital lifestyle), dan perangkat digital mereka harus didukung oleh beberapa fasilitas seperti tempat charging baterai, steker listrik (colokan), wifi, dll. Hal tersebut mungkin dipandang sepele, tetapi kenyataannya masih banyak tempat wisata yang masih belum aware. Padahal pada saat ini hal tersebut sudah menjadi hal yang generik, yang sudah seharusnya tersedia atau bukan lagi menjadi augmented product seperti zaman old. Usaha pariwisata/destinasi zaman now harus terus kreatif dan inovatif dengan selalu menampilkan augmented product yang baru, yang unik, agar selalu hits dan tidak membosankan

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started